Untuk menghindari kemungkinan terjadinya resiko keganasan dari massa di ovarium yang menjalani prosedur laparoskopi, maka harus didapati kriteria sebagai berikut :
- Pasien yang tidak memiliki riwayat kanker pada keluarga
- Pasien dengan usia reproduksi
- Ukuran massa < 5 cm
- Pemeriksaan sonografi didapat massa yang unilateral, unilokuler dengan batas yang tipis
- Tumor marker (CA-125) normal
Pengunaan laparoskopi dalam prosedur pembedahan untuk kista ovarium dapat berupa kistektomi dan salfingo-ooforektomi
Komplikasi
- Kemungkinan keluarnya cairan dari kista yang pecah sehingga akan menimbulkan penyebaran sel-sel kanker pada kista yang dicurigai ganas. Untuk menghindari hal ini maka sebelum pelaksanaan operasi sebaiknya dilakukan pemeriksaan klinis dan penunjang secara menyeluruh. Bila di curigai adanya lesi kegaasan maka pemeriksaan cairan peritoneal dan potong beku harus dilakukan
- Pembuluh darah terutama yang terdapat pada dasar kista harus dikoagulasi untuk menghindari pendarahan yang banyak durante operasi. Bila terjadi perdarahan yang tidak dapat dikontrol operasi dilanjutkan dengan laparotomi
- Bila terjadi perembesan darah dari permukaan dalam ovarium setelah dilakukan pelepasan dinding kista, dapat terjadi hematoma. Untuk mencegah hal ini maka harus dilakukan irigasi dan tindakan hemostasis
- Adanya cairan endometrioma, cystadenoma musinosum atau kista dermoid yang keluar ke rongga peritoneal dapat dibersihkan dengan melakukan irigasi dengan cairan NaCl fisiologis sebanyak 4-5 liter
- Komplikasi yang mungkin terjadi dari tindakan laparoskopi adalah adanya perlengketan. Untuk mencegah timbulnya perlengketan, maka tindakan operasi harus secara cermat dan dapat dimasukkan cairan ringer lactat ke dalam rongga peritoneal
